Featured newsSports, Lifestyle & Environment

Kesepian, Anak Muda Korsel Dapat Tunjangan Rp7,3 Juta untuk Kembali ke Masyarakat

Cosmobikers Lovers – Para orang tua di Indonesia, perlu berhati-hati mengawasi anak-anak agar terhindar dari gaya hidup menyendiri atau merasa nyaman saat di tempat sepi. Jika hal itu terjadi, maka negara harus turun tangan, padahal ini adalah tanggung jawab para orang tua.
Kondisi tersebut sekarang ini sedang terjadi di Korea Selatan & Jepang. Seperti apa, kondisi yang terjadi di Korea Selatan & Jepang saat ini terkait anak muda disana? Dan solusi apa yang perlu diperhatikan keluarga Indonesia? Yuk, kita simak bersama informasi yang kami dapatkan dari berbagai sumber.

Kesepian di Korea Selatan
Persoalan kesepian di Korea Selatan mendorong pemerintah membuat kebijakan pemberian tunjangan bagi anak muda introvert. Ada sekitar 3 persen dari orang muda berusia 19 hingga 39 tahun di Korea Selatan mengalami kesepian atau terisolasi.

Guna mendorong anak muda agar lebih banyak keluar rumah & mau bersosialisasi dengan dunia luar. Pemerintah Korea Selatan lewat Kementrian Kesetaraan Gender & Keluarga memberikan tunjangan senilai 650.000 won atau sekitar Rp 7,6 juta per bulan bagi anak muda penyendiri atau kesepian.

Selain pemberian tunjangan, kebijakan ini juga menawarkan dukungan pendidikan, pekerjaan kesehatan, bahkan bantuan untuk memperbaiki penampilan fisik bagi anak muda yang merasa kurang percaya diri. Dilansir dari The Guardian, tunjangan untuk anak muda yang kerap dianggap introvert ini diberikan bagi warga Korea Selatan berusia 9-24 tahun, yang terbukti menarik diri dari aktivitas sosial secara ekstrem.
Seorang remaja yang tidak disebutkan namanya menggambarkan, ia menarik diri dari kehidupan sosial dan mengalami depresi karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Ketika saya berumur 15 tahun, (KDRT) membuat saya sangat tertekan sehingga saya mulai hidup terasing. Saya memilih sering tidur. Tidak banyak pilihan kegiatan selain makan saat lapar. Setelah itu saya kembali tidur,” ungkapnya.

Lantaran beberapa faktor di atas, pemerintah setempat membuat kebijakan yang mendukung kesejahteraan emosional warganya. Dengan begitu, anak-anak muda yang sebelumnya tertutup dan penyendiri mengembalikan kehidupan sehari-hari mereka dan berintegrasi kembali ke dalam masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, kesepian bukan persoalan sepele tapi sudah menjadi ancaman kesehatan global yang mendesak.
Menurut WHO, dampak kematian akibat kesepian setara dengan merokok 15 batang sehari. Di Korea Selatan, sebanyak 40 persen anak muda yang terisolasi dan kesepian berasal dari keluarga kurang mampu atau menengah ke bawah. Tentunya, alasan ekonomi bukanlah faktor tunggal penyebab kesepian di Negeri Ginseng. Ada juga faktor kompleks lainnya.

Kesepian juga di Jepang
Serupa dengan Korea Selatan, Jepang juga memiliki masalah sejenis, yaitu anak muda cenderung menarik diri dari masyarakat. Di Jepang, kondisi ini disebut dengan hikikomori yang memiliki arti menarik diri. Jumlah kaum penyendiri di Jepang mencapai hampir 1,5 juta orang, dilansir dari CNN. Istilah hikikomori sudah lama tercipta, yaitu sekitar awal tahun 1980-an.

Namun, belakangan kondisinya semakin memburuk, terutama pasca-pandemi Covid-19. Orang yang melakukan hikikomori hanya keluar rumah untuk membeli bahan makanan atau sesekali melakukan aktivitas di luar rumah. Bahkan, dalam kasus yang ekstrem, orang yang melakukan penarikan diri ini tidak meninggalkan kamar tidurnya.

Solusi Buat Keluarga Indonesia
Menurut bapak Himawan Hadirahardja,” Kondisi yang dialami anak muda di Korea Selatan & Jepang dikarenakan beberapa hal, seperti kemajuan teknologi, tingginya tuntutan pendidikan, kurangnya kesadaran akan kesehatan mental, pengaruh budaya/ kebiasaan.
Kalau budaya Korea konsep haji-won (sikap menjaga jarak), membuat orang sangat hati-hati dalam membangun relasi. Sedangkan di Jepang, ada konsep “tidak ingin menanggung malu” karena berbagai penyebab,” jelas Himawan Hadirahardja Direktur Eksekutif Family First Indonesiia.

Lanjut Himawan, hal itu bisa dicegah, agar tidak terjadi atas keluarga, yakni Pertahankan kebiasaan untuk beraktivitas bersama, bangun komunikasi yang sehat, dorong & libatkan anak untuk terlibat dalam berbagai kegiatan positif, kunjungi secara teratur ke kamar anak, ajak berdoa bersama & dampingi mereka jika butuh tenaga ahli,” ungkap Himawan pakar masalah keluarga lewat Whatsapp.

Kemajuan & perkembangan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Namun, apa yang terjadi jika generasi mudanya mengalami tekanan mental, akibat lingkungan tempat tinggalnya tidak mendukung. Ditambah lagi keluarga atau orang tua kurang memperhatikannnya. Kejadian ini, perlu diantisipasi sejak dini, agar tidak menjadi beban negara nantinya. #berbagaiSumber. Salam Family as a Team…!

Comments are closed.

0 %