COSMOBIKERS LOVERS (Budaya) – Keberagaman adat dan budaya Indonesia dari Sabang hingga Merauke adalah kekuatan besar yang patut kita syukuri dan lestarikan untuk generasi mendatang. Salah satu bentuk pelestarian tersebut hadir melalui Festival Pesona Meti Kei (FPMK), perayaan budaya tahunan yang menjadi kebanggaan masyarakat Kepulauan Kei, Maluku Tenggara.
Tradisi Meti Kei: Harmoni Alam dan Manusia
Fenomena alam yang dikenal sebagai “Met Ev” atau “Meti Kei” menjadi inti dari festival ini. Saat air laut surut, masyarakat Kei melakukan tradisi “Wer Warat” atau “Tarik Tali”, yaitu menangkap ikan secara tradisional dengan menggunakan daun kelapa yang dibentangkan di laut, kemudian ditarik bersama-sama ke darat. Tradisi ini menggambarkan semangat gotong royong dan keharmonisan masyarakat dengan alam.

Ragam Atraksi Budaya dan Olahraga
Selain “Wer Warat”, Festival Pesona Meti Kei juga menghadirkan berbagai pertunjukan budaya dan kesenian lokal, seperti tarian adat, musik tradisional, serta lomba Dragon Boat yang menjadi daya tarik utama.
Tahun ini, lomba Dragon Boat diikuti oleh 37 tim dari berbagai wilayah Maluku Tenggara, termasuk tim dari Koarmada III Sorong, Papua Barat Daya, yang menandai semakin luasnya pengakuan terhadap FPMK di tingkat nasional.
Suara tifa dan sorakan penonton di pantai Elomel mengiringi para pendayung yang gagah, memperlihatkan kekompakan dan semangat bahari masyarakat Kei.

Simbol Persatuan dan Kebanggaan Daerah
Bagi masyarakat Maluku Tenggara, lomba Dragon Boat bukan hanya ajang olahraga, melainkan simbol persaudaraan dan penghormatan terhadap warisan budaya laut. Setiap kayuhan dayung mencerminkan semangat persatuan, gotong royong, dan sportivitas.
Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, menyampaikan bahwa Festival Pesona Meti Kei kini menjadi event nasional kebanggaan masyarakat Kei.

“Festival ini adalah kebanggaan kita semua. Terima kasih kepada sponsor dan masyarakat Sathean yang telah mempersiapkan segalanya dengan luar biasa. Mari kita jaga ketertiban dan tunjukkan keramahan khas orang Kei. Yang terpenting bukan hanya kemenangan, tetapi persaudaraan dan kedamaian,” ujarnya.
“Pemerintah daerah juga berkomitmen menjadikan FPMK sebagai agenda tahunan tetap, untuk mempromosikan pariwisata daerah hingga tingkat internasional. Kami ingin festival ini terus hidup dan berkembang, menjadi ikon pariwisata yang membanggakan masyarakat Kei,” tambah Bupati Thaher.

Bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN)
Dalam pelaksanaan FPMK 2025 yang berlangsung di beberapa lokasi seperti Ohoi Kolser, Pantai Wahan Ohoi Danar, dan sejumlah Ohoi lainnya, turut hadir Rosalin Petrina Kristianti, Ketua Tim Kerja Kemenparekraf Wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
“Yah, saya tegaskan bahwa Festival Pesona Meti Kei telah masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN), program unggulan nasional yang menampilkan 110 kegiatan dari 37 provinsi di Indonesia. Festival Pesona Meti Kei menjadi salah satu event terbaik di Indonesia yang masuk dalam KEN,” ungkapnya.

“Dukungan pemerintah pusat melalui program ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat daya saing pariwisata daerah dan membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada inovasi dan kolaborasi para pelaku daerah,” jelasnya.
Mengangkat Citra Maluku Tenggara di Kancah Nasional
Melalui kombinasi keindahan alam, budaya, dan tradisi maritim, Festival Pesona Meti Kei menjadi sarana memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda, sekaligus menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara untuk menjelajahi pesona Kepulauan Kei.

Festival ini kini menjadi magnet wisata baru di Indonesia Timur, sekaligus simbol semangat masyarakat Kei dalam melestarikan warisan budaya dan memperkuat citra Maluku Tenggara sebagai destinasi unggulan pariwisata nusantara,#BerbagaiSumber.


